30 January 2017
Peran Terapi Musik dalam Tumbuh Kembang Anak
Mengawali tahun 2017, Program Studi Peminatan Music Therapy, Conservatory of Music (CoM) UPH kembali memberikan informasi bermanfaat mengenai manfaat Music Therapy kepada publik
Praktek Drum Circle dalam Acara Workshop Music Therapy
 

Mengawali tahun 2017, Program Studi Peminatan Music Therapy, Conservatory of Music (CoM) UPH kembali memberikan informasi bermanfaat mengenai manfaat Music Therapy kepada publik. Program ini memang bukan yang pertama kali diadakan oleh prodi Music Therapy. Sebelumnya, tahun 2016, CoM UPH juga pernah mengadakan seminar dan workshop Music Therapy beberapa di antaranya: neurologic music therapy, gamelan sebagai media terapeutik.

 

Pada seminar kali ini, topik yang dibahas mengenai “Music Therapy to Optimize Growth and Development of Children with Special Needs”. Seminar ini membahas manfaat terapi musik untuk tumbuh kembang anak yang terhambat, yang disampaikan dua narasumber berpengalaman, yaitu Paula Chandra, MMT seorang praktisi Music Therapy yang sebelumnya praktek di RS Siloam Karawaci dan Brawijaya Women and Children Hospital, dan Shu Che, BMT, MA, pengajar dari Ewha Womans University Korea. Seminar ini dihadiri 75 peserta dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, guru-guru, dokter, psikolog, konselor, dan orang tua. Acara berlangsung di MYC UPH Karawaci Tangerang, pada 25 Januari 2017.

 

Mengawali seminar, Paula Chandra, seorang therapist yang telah meraih gelar BA di bidang musik di Calvin College, Michigan dan Master in Musik Therapy yang khusus mempelajari neuroscience di Florida State University, menjelaskan mengenai Music Therapy, serta pengaruhnya terhadap emosional dan fisiologis seseorang. Menurutnya, perkembangan fisiologis sangat berkaitan dengan kemampuan motorik yang begitu berpengaruh pada tumbuh kembang anak-anak sejak kecil.

 

“Music therapy sendiri merupakan penggunaan intervensi musik atas dasar ilmiah untuk mencapai beragam tujuan individualis, yang dilakukan melalui hubungan therapeutic oleh profesional. Musik mempengaruhi fisiologis dapat dilihat dari bukti nyata bahwa sejak awal musik diterima oleh seseorang harus melalui bagian fisik seseorang yaitu telinga. Jadi musik tentunya menyentuh sisi fisik seseorang dan bukan hanya sisi emosionalnya,” jelas Paula.

 

Paula juga menjelaskan mengenai komponen-komponen musik seperti beat, rhythm, lirik, melodi, tempo, dinamika, harmoni, dan timbre. Secara garis besar Paula menjelaskan 10 teknik dalam terapi musik, diantaranya Rhythm Entertainment, playing, movements, singing and vocalization, dan lain-lain.

 

Lebih lanjut Paula membagikan pengalamannya ketika menjadi terapis dan menjelaskan peran musik untuk menghadapi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Menurutnya, musik mampu memberi kenyamanan, mengontrol sistem motorik, dan mempengaruhi emosi. Ia mencontohkan bagaimana musik dapat mengatasi permasalahan anak-anak yang sulit berkomunikasi, berbicara, dan membaca. Untuk melatih kemampuan mambaca, ia menjelaskan tiga tahapan dalam proses membaca. Pertama, menyadari adanya kata. Ke-dua, mempelajari hubungan dari kata antara si anak yang melihat visual dari kata dengan fonem ketika menyebutkannya, dimana tahap ini dilakukan oleh therapist dengan media musik. Dan ke-tiga, anak akan mulai pada tahap visual recognition sebagai hasil dari tahap kedua.

 

Pembicara kedua, Shu Che, BMT, MA yang menerima Bachelor of Music Therapy dan Minor in Psychology dari Georgia College dan State University, membahas mengenai tujuan dari music therapy bagi perkembangan anak-anak.

 

“Musik berperan bagi tumbuh kembang anak, ada dua hal yang menjadi fokus dalam pertumbuhan anak. Pertama kemampuan fisik dan kedua kemampuan otot dimana ketika otot anak lemah mereka akan sulit belajar merangkak, mengangkat kepala, duduk, serta kerja otot untuk kordinasi antara tangan dan kaki. Dalam mendorong pertumbuhan anak ini saya lebih banyak melakukan terapi dengan musik seperti bermain marching menggunakan tambourine,” jelas Shu Che.

 

Untuk menjelaskan terapi marching untuk anak-anak, Shu Che mengajak satu peserta untuk bermain Marching. Melalui praktek ini ia menjelaskan bahwa tujuan bermain marching bagi anak-anak adalah untuk menstimulus kemampuan anak dalam mengikuti instruksi bermain marching, seperti melakukan gerak jalan dan lari, juga kemampuan berbicara yang dilihat dari bagaimana respon dari anak ketika merespon ajakan bermain therapist, dan kemampuan anak tersebutu mengucapkan kata seperti “Go!” atau lainnya. Shu Che mengatakan bahwa kemampuan berbicara ini didorong melalui kemampuan bernyanyi, menggumam, pengulangan kata, dan melakukan permainan PECs (Picture Exchange Cards).

 

Diakhir acara, Shu Che mengajak beberapa peserta untuk merasakan menjadi seperti anak-anak yang melakukan terapi melalui permainan drum circle. Drum circle ini dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak untuk ambil bagian bermain drum yang digabungkan dengan alat musik ritmis lain seperti marakas.

 

“Terapi drum circle ini bertujuan untuk melatih anak agar mampu mengikuti instruksi tanpa melalui kata-kata tapi melalui musik, anak mampu peka terhadap isyarat fisikal dari guru atau therapist ketika bermain drum, dan dapat meningkatkan kemampuan sosial,” ungkap Shu Che menutup sesinya.

 

Monica Subiantoro, selaku Koordinator Peminatan Music Therapy, CoM UPH, berharap acara ini dapat memberi wawasan mengenai pentingnya peran musik dalam kehidupan manusia, khususnya perkembangan seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus. Terapi musik ditawarkan sebagai intervensi yang dapat diakses oleh semua pihak, tak berbatas umur. Klinik Terapi Musik di UPH Karawaci menawarkan pelayanan untuk klien anak hingga lansia dengan berbagai kebutuhan. 

 

Dalam beberapa bulan ke depan, Music Therapy UPH akan memulai penelitian tentang peran terapi musik dalam perkembangan komunikasi dan interaksi anak-anak dalam spektrum Autisme (ASD). Jika anda memiliki pertanyaan atau ketertarikan untuk berkolaborasi, silakan menghubungi Monica Subiantoro (monica.subiantoro@uph.edu).


Ms. Shu Mengajak Partisipan Mencoba Praktek Bermain Tambourine yang Bertujuan untuk Merangsang Respon Gerak dan Bicara Anak

 

(mt/rh)