04 August 2017
Musik sebagai Media Berinteraksi dan Berekspresi Non Verbal
Monica Subiantoro menyatakan bahwa musik mampu menjadi media interaksi satu sama lain.

Monica Subiantoro bersama Mahasiswa Music Therapy UPH dan Peserta, Memainkan Alat Musik untuk Mencoba Mencapai Sebuah Harmonisasi
 

Monica Subiantoro, Koordinator Peminatan Music Therapy, Conservatory of Music UPH menyatakan bahwa musik mampu menjadi media interaksi satu sama lain. Dengan menggunakan improvisasi teknik, musik bahkan dapat menjadi cara untuk membantu seseorang yang susah berekspresi secara verbal. Hal ini diungkapkan Monica dalam UPH Public Exposure di Lippo Mall Puri, 28 Juli 2017. Monica juga menambahkan bahwa masing-masing manusia secara natural telah memiliki ritme, beat, yang menjadi musik alami dari tubuh. Maka dari itu, musik dapat menyesuaikan dan mampu menjadi media natural untuk membantu memperbaiki keadaan tubuh manusia.

 

Dalam UPH Public Exposure ini, Monica mengajak publik yang hadir untuk mencoba memainkan alat music yang biasa ia gunakan untuk melakukan terapi dengan pasiennya. Bagaimana para peserta yang beberapa diantaranya awam dengan musik bermain dengan sesukanya, tapi perlahan-perlahan satu sama lain dapat menyesuaikan dan memiliki ritme yang harmonis tanpa dilatih terlebih dahulu. Inilah yang membuktikan bahwa musik mampu menjadi media interaksi tanpa perlu mengeluarkan ekspresi verbal. Dengan workshop ini Monica ingin menunjukkan bahwa inilah yang dapat dilakukan oleh musik, bahwa musik dapat menjadi sarana efektif untuk terapi bagi orang yang membutuhkan.

 

“Inilah yang kita pelajari di UPH. Di Indonesia UPH merupakan satu-satunya universitas jenjang S1 yang memiliki peminatan Music Therapy. Dalam Music Therapy UPH, kit belajar secara komprehensif, tidak hanya sisi musikal tapi juga dari segi psikologi, medical, dan lainnya yang turut menunjang,” jelas Monica. Di Indonesia sendiri menurut Monica memang perkembangannya masih jauh jika dibanding music therapy di luar negeri. Namun Monica mensyukuri bahwa kini, music therapy semakin berkembang. Sebagai bentuk kontribusi dari UPH, bayak mahasiswa UPH yang melakukan pelayanan terapi di rumah sakit, di sekolah, klinik, atau yayasan.

 

Salah satu mahasiswa Music Therapy UPH, Kezia yang akan segera melanjutkan studi S2-nya di Kanada membagikan pengalamannya. Kezia mengaku pernah praktek di tempat penampungan anak, panti werdha, dan di rumah sakit Jiwa ketika skripsi. “Menjadi seorang therapist harus memiliki kesabaran, rasa empati, kemampuan sosial, kemampuan berinteraksi, dan tentunya didukung dengan kemampuan musikal,” tambah Kezia. Melalui kesempatan ini, Monica tidak hanya ingin mahasiswa Music Therapy UPH saja yang memahami peran musik, tapi juga publik lain yang hadir dapat mengetahui peran musik lainnya. Tidak hanya sekedar sebagai media entertainment, tapi musik juga mampu berpengaruh bagi tubuh manusia. (MT)

 

 

 

UPH Media Relations